Sepotong Senja untuk Istriku
Pada suatu senja saat kemarau mengering
Engkau bertutur tentang liku hidup
Penuh senyap dan sinar redup
Kubilang, “Itu masa lalu, segeralah berpaling!”
Pada suatu senja saat angin mengirim dingin Tiang-tiang kokoh itu menjadi saksi Bahwa hidup tak harus terus diratapi Tidak selalu datang apa yang kita ingin
Pada suatu senja saat bougenvile berguguran Kepastian bukan milik manusia Melainkan Allah-lah yang menetapkan Sebanding kekhusyukan dalam berusaha
Pada suatu senja saat musim enggan beranjak Kehidupan akan selalu menyisakan jejak Bahagia yang membuat kita lupa Atau lara yang menyadarkan, pun sebaliknya
Pada suatu senja saat matamu berkaca-kaca Kukatakan, aku bukan siapa-siapa Bukan malaikat, bukan juga dewa Akan selalu ada yang tak sempurna
Pada suatu senja ingin kuhentikan waktu Lalu kuhadiahkan sepotong senja itu Untukmu, ya untukmu…. Istriku…
ref. dakwatuna.com (E. Hamdani)